Kamis, 11 April 2013

NuClear


Tahun 1959
Korsel menyambut sinar sang surya ketika gorden jendela kamarnya terbuka. Ia menghirup udara perlahan, lalu menghembuskannya. Matahari kala ini sangat indah, sungguh, tetapi ketika Korsel menajamkan matanya… Ada pandangan itu, dan ada orang itu. Ya, Korut. Saudara kembarnya yang sangat antisosial. Jangankan bergaul dengan negara lain, hubungan di antara mereka sebagai saudara kembar saja kalau dihitung secara matematika bisa mencapai minus tak terhingga.

Korsel masih ingat, beberapa hari yang lalu ada paket pos datang ke rumah mereka. Sebuah paket besar seukuran kulkas dua pintu yang ditujukan untuk Korut. Dan apa kalian tahu paket itu dari siapa? Rusia, lelaki berwajah dingin yang rumahnya hanya berjarak satu bangunan dari rumah mereka. Mendengar namanya saja Korsel sudah bergidik dan firasat buruknya bertambah besar ketika Korut membuka paket itu. Sebuah mini rudal dengan lambang NC pada dasar badannya.

Hanya satu ide yang terlintas di pikiran Korsel saat itu; Rusia memberi Korut rudal nuklir. Pikiran itu semakin yakin dipahami Korsel ketika ia menanyakan langsung pada Korut dan saudara kembarnya itu hanya membalas dengan senyuman picik yang sangat dibencinya juga saat ia melirik buku panduan rudal itu yang bertuliskan “NuClear” kepanjangan dari NC

“Series 9559,” ucap Korut mengagetkan Korsel yang tadinya sedang melamun di meja makan.

“Series 9559? Apa itu?” Korsel mengerutkan alisnya.

“Tunggu tanggal mainnya. Aku tidak akan kalah dengan Amerika,” jawab Korut seraya membawa rudal mini-nya masuk ke dalam kamar meninggalkan Korsel yang mulai meramu khayalan-khayalan mengerikan yang mungkin akan terjadi dalam skenario terburuk.
***


Tahun 1970
Korsel hanya bisa mengerutkan alisnya ketika meneliti kandungan mini rudal yang beberapa hari lalu ia dapatkan dari tetangganya, Cina. Sebelas tahun setelah saudara kembarnya, Korut, memperoleh mini rudal pertamanya baru sekarang Korsel bisa membeli mainan penuh resiko itu. Ketinggalan? Ya, memang. Tetapi itu lebih baik dari pada terus dihantui rasa ngeri atas ancaman tersirat Korut yang bisa meluncurkan rudal NC –yang sekarang mungkin telah berkembang daya ledaknya- kapan saja.

Mengenai Series 9559, Korsel akhirnya tahu kalau itu adalah nama perjanjian yang disepakati Rusia dan Korut. Perjanjian mengenai bantuan alat, pendidikan, dan dana meneliti NC.

“Jadi kamu membeli barang yang sama denganku?” komentar Korut. Matanya menatap sinis mini rudal milik Korsel.

“Hm, ya. Hanya untuk berjaga-jaga,” jawab Korsel. Sebenarnya ia ingin menambahkan berjaga-jaga darimu yang bisa membunuhku kapan saja, tetapi ia urungkan mengingat Korut adalah pribadi yang bila emosinya disulut akan melakukan hal-hal bodoh yang bisa merugikan dunia.

Korut melirik kertas berisi tabel dan kurva rumit yang tak dimengerti Korsel. Seperti memahami sesuatu ia menjentikkan jarinya dan tersenyum sinis pada Korsel.

“Sampai kapanpun NC milikmu tidak akan melebihi daya ledak milikku.”

Kalimat itu bagai memperjelas argumentasi-argumentasi yang selama ini bergolak di pikiran Korsel, setidaknya bagi Korsel sendiri. Lelaki berpupil cokelat itu segera mengambil pager-nya lalu menuliskan pikirannya yang akan tersampaikan pada tetangga-tetangganya.
***

Tahun 1975
Perancis menarik-ulur kabel teleponnya. Jemarinya sesekali menari pada angka-angka yang tertera melingkar di badan telepon tembaga itu, lalu kemudian akhirnya memutar ulang untuk membatalkan niatnya menelpon seseorang yang baru dikenalnya tak lama ini.

Matanya melirik pada foto yang terbingkai rapi di dinding. Gerboise Bleue. Nuklir pertamanya yang ia luncurkan 15 tahun lalu pada perang Algeria. Ia tidak bisa melupakan sensasi puasnya saat rudal berisi cairan pemusnah itu meluncur ke langit hingga rudal bermassa 70 kiloton itu sukses meluluhlantakkan Gurun Algeria.

“Batalkan bantuan nuklirmu pada Korsel!”

“Iya, iya. Memang kenapa sih? Korsel kan tidak seberbahaya Korut.” Perancis mengangkat gagang teleponnya, matanya melirik Amerika yang sedang menyeruput teh di sofa berwarna emas.

“Bukan masalah Korsel berbahaya atau tidak…” Amerika bangkit dari sofa empuk itu. “Yang aku khawatirkan jika suatu saat nanti perselisihan antara Korsel dan Korut memanas maka kedua negara itu akan berperang dengan nuklir mereka,” sambungnya serius.

“Dan juga sudah cukup hanya 5 negara saja yang boleh mengembangkan nuklir.” Kali ini Britania angkat bicara setelah memilih bungkan beberapa waktu ini. Ia menyerahkan sebuah dokumen pada Amerika, dokumen berisi tanda tangan dan perjanjian yang telah beberapa negara setujui.

“Non-Proliferation Treaty?” tanya Perancis.

Britania mengangguk. “Suruh Korsel datang ke sini sekarang. Kita akan membujuknya untuk menandatangani NPT,” ucapnya kemudian.
***

Non-Proliferation Treaty (NPT) adalah perjanjian yang berisi kesepakatan untuk membatasi kepemilikan senjata nuklir dan penggunaannya hanya untuk tujuan perdamaian. Ide perjanjian tersebut pertama kali dicetuskan oleh Irlandia dan pertama kali diratifikasi oleh Finlandia.

“Apa aku harus menandatangani ini?” tanya Korsel heran saat Amerika menyodorkan sebuah dokumen dan proposal NPT.

“Iya, hal ini demi kebaikan kita semua,” jawabnya tegas.

“Walaupun aku baru saja memiliki NC? Aku tidak seberbahaya itu.” Korsel menjawabnya dengan sinis. Ia tidak habis pikir kenapa tiga negara besar ini sampai rela mengundangnya ke rumah Amerika. Setaunya, rumah Amerika hanya sering dimasuki oleh negara-negara penting dan besar.

“NC atau nuklir macam apapun, baru atau lama, kita harus menyepakati perjanjian ini. Dan juga aku tidak akan lagi membantumu dalam mengembangkan NC,” ucap Perancis.

Korsel menghela napasnya. “Baiklah, kalau begitu aku berhenti meneliti dan mengembangkan NC,” ucapnya lalu menggoreskan tanda tangannya pada selembar kertas putih yang mereka sebut sebagai dokumen pemelihara perdamaian.

“Kau yakin ingin berhenti menelitinya?” tanya Perancis.
Korsel mengangguk mantap sambil menyerahkan dokumen itu kembali pada Amerika yang juga agak kaget dengan pernyataan Korsel.
***

Tahun 2003
Amerika, Jepang, Britania dan Korsel ternganga.

“Aku mengundurkan diri dari NPT,” ulang Korut sekali lagi, untuk meyakinkan mereka.

“K-kenapa?!” tanya Amerika.

“Aku tidak suka dibatasi oleh negara lain,” Korut merobek dokumen yang pada 1985 ia tanda tangani, membuat bungkam saudara kembar dan tiga negara besar itu.
***

Tahun 2006
Hari ini adalah hari terpenting kedua bagi Korut setelah hari ulang tahunnya. Rudal NC yang telah ia kembangkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu, akhirnya hari ini akan meluncur menembus langit dalam uji coba ledakan. Perasaan bangga memenuhi dadanya, akhirnya ia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak patut untuk diremehkan oleh para negara barat.

Beep.. beep…

Korut merangkai kalimat dalam pesan singkat di ponselnya.

Klik… Terkirim.
***

Cina berlari dari dapur ke kamarnya ketika mendengar lagu Gong Ji’ou menggema dari ponselnya. Tangannya menggapai ponsel yang ia letakkan dia atas meja kerjanya dan menggerakkan jemari untuk membuka pesan singkat dari seorang teman yang telah lama dikenalnya.

“Hah?” Kelopak mata Cina berkedip dengan cepat. Ia seperti tidak percaya akan apa yang dibacanya. Ia membacanya pesan singkat itu sekali lagi.. kali ini keringat dingin mengalir di dahinya.

Lelaki berpupil gelap itu segera mengambil buku kecil dari laci mejanya. Ia membuka lembaran demi lemabaran kertas dengan terburu-buru hingga menemukan sebuah goresan nomor telepon.

“01-201-23..”

Tuuuut….

Tersambung.

“Halo, Amerika?”
***

Amerika, Jepang, Britania dan Korsel berkumpul di rumah Rusia setelah setengah jam yang lalu Amerika mendapat telepon dari Cina yang memberitahukan jika Korut akan menguji NC-nya hari ini, tepatnya pukul 9 pagi.

“Korut tidak mengatakan apapun padaku tentang uji ini,” kata Rusia.

“Kamu benar-benar tidak tahu kemana Korut akan meluncurkan NC-nya?”

Korsel menggeleng menanggapi pertanyaan Jepang. “Hubunganku dengan Korut sangat buruk.” Ia menekankan pada kalimat ‘sangat buruk’.

“Ini akan jadi masalah besar jika NC yang diluncurkan Korut bermassa besar.” Britania mengutak-atik ponselnya. “Tapi kupikir massa-nya tidak akan lebih dari 5 kiloton,” sambungnya kemudian.

“Apalagi setelah Series 9559 berakhir, aku tidak pernah campur tangan lagi dalam pengembangannya,” ungkap Rusia.

Grrrrrrhhhhh….

Suara gemuruh itu membuat Amerika, Jepang, Korsel, Britania dan Rusia saling memandang satu sama lain. Setelah itu Amerika memandang keluar jendela dan menemukan sebuah rudal berwarna baja meluncur membelah putihnya awan.

“Sudah mulai, huh?” Amerika dan Britania bergegas mengambil jas mereka dari ruang penyimpanan pakaian tamu milik Rusia.

“Aku tidak tahu apa yang bisa kita lakukan, tapi setidaknya kita harus menemui Korut sekarang dan memintanya menjelaskan apa motif dari uji ini.” Korsel mengikuti Amerika dan Britania yang telah berjalan keluar dari rumah Rusia.

“Benar. Toh, kalau dia punya motif berbahaya hal itu akan mengancam keamanan kita yang rumahnya berdekatan dengan Korut,” susul Jepang.

Tinggal Rusia sendiri, menatapi rudal NC yang dulu ia berikan pada Korut telah meluncur ke langit. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celana, lalu menekan tombol ‘panggil’ saat barisan nomor muncul di layar ponselnya.

“Cina? Kamu juga lihat? Ya, sekarang Amerika, Jepang, Korsel dan Britania sedang menuju ke sana. Aku? Hm, mungkin sebentar la-.”

Terputus.

Rusia berdecih lalu mengambil topi-nya dan bergegas menyusul keempat temannya yang telah pergi terlebih dahulu. Ia berusaha menelpon Korut namun tidak tersambung karena Korut mungkin mematikan ponselnya, atau mungkin karena jaringan yang terganggu akibat rudal NC.

“Apakah ini jalan yang kamu pilih, Korut?”***

Prologue


     Hentakan sepatu kaca berwarna kelabu itu meraum miris dalam labirin tak berujung. Sang empunya menggigit bibir ranumnya sambil menyipitkan mata. Dentuman jantung yang mengalahkan letupan gunung Hawaii saat erupsi itu terasa memakan nadi-nadinya. Napasnya memburu, pupil senada jamrud itu berkedip lebih banyak dari biasanya.

     Bayang-bayang hitam tanpa kepala bertunggang kuda mengejarnya dengan penuh gairah. Bayang-bayang itu pasti akan mengejarnya sampai ke ujung dunia. Entah dunia mana. Dirinya terlalu nikmat untuk dilewatkan oleh mereka. Dirinya terlalu kuat untuk diabaikan oleh mereka. Namun, sebenarnya mereka tidak akan bisa semudah itu menyantapnya, itu sama saja dengan bunuh diri.

     Entah sudah berapa ribu purnama ia lewati. Hidupnya terlalu kekal untuk menghitung waktu, toh ada kemungkinan jika hidupnya tidak akan pernah berakhir. Namun, dari beribu purnama itu baru kali ini ia terjebak dalam labirin dimensi. Ia tidak tahu mengapa. Beribu kemungkinan berdesak dalam pikirannya.

    Bayang-bayang hitam tanpa kepala yang sebenarnya merupakan ksatria awal zaman itu terus mengejarnya. Buruk. Ia telah berada di labirin ini terlalu lama. Lebih lama lagi ia terperangkap di sini maka labirin penghubung dunia ini akan runtuh karena tak kuasa menahan gesekan antara kekuatannya dan segel dimensi.

     Ia terlalu sakti, kah? Sekelumit penyesalan menyerbu hatinya karena pergi melintasi labirin ini seorang diri. Seharusnya ia pergi bersama Gawain dan Galahad seperti biasanya.. Ya, seharusnya.

      Hm.. Jika diingat dulu ia bertemu dengan dua pemuda itu di labirin dimensi ini. Satu abad yang lalu mungkin. Ia menemukan Gawain dan Galahad tergeletak di sisi dinding labirin. Entah mereka ingin pergi kemana namun yang jelas mereka berdua terlalu lemah untuk melintasi labirin ini, kebalikan dari dirinya yang terlalu kuat. Karena itu dulu dirinya menawarkan untuk menyelamatnya mereka dengan satu syarat; Gawain dan Galahad harus mengabdi padanya selama-lamanya. Ajaibnya, kedua pemuda itu langsung menyetujuinya, tanpa negosiasi apapun.

     Sejak saat itu ia tidak pernah sendiri ketika melintasi labirin dimensi. Selalu ada Gawain dan Galahad yang menemaninya, bekerja sebagai penetral yang secara otomatis akan meyerap seperempat dari kekuatannya, menjamin labirin dimensi ini tidak goyah ataupun hancur.

     Sang penyihir menyeka keringat yang membasahi dahinya. Ah, ia bahkan bisa merasakan keringat juga mengalir di sela-sela rambut indah berwarna emasnya. Wajah jelitanya yang menipu takdir usia itu terlukis perasaan khawatir. Sang penyihir melirik gaunnya yang berwarna seindah bukit harapan. Sang penyihir benci mengetahui gaun favorite-nya kotor terseret tanah becek dalam labirin ini.

     SIIINGG...

    “Ah, ini kan..”

  Sang penyihir menatap cincin bertahta permata Kooh-i-Noor yang melingkar manis pada jari telunjuknya. Permata itu bersinar kekuning-kuningan, pertanda jika ada seseorang yang memanggilnya. Seseorang dengan kekuatan yang hampir sepadan dengannya.

     Tetapi ini bukan saatnya untuk menjawab panggilan itu kan? Prioritasmu adalah untuk bisa keluar dari labirin dimensi ini secepat mungkin.

     “Aku hanya memiliki dua pilihan, huh?” ucap sang penyihir ketika langkahnya terhenti di sisi jurang batas akhir dari labirin ini.

     Sekarang ia hanya memiliki dua pilihan; melepas cincinnya dan menerima panggilan dari seseorang itu atau melompat ke dasar jurang meski ia tidak tahu ada apa di ujung jurang itu.


***
Notes :
 Jadi ini adalah Choice-Novel. Bagaimana cerita selanjutnya ditentukan oleh hasil polling yang berada di sisi kanan atas blog ini. Silahkan vote tindakan apa yang menurut kamu harus dilakukan oleh sang karakter dalam cerita ini.

Anggi Widyastuti
@anggiwdyst

Rabu, 27 Maret 2013

Mencoba Berwirausaha melalui 8rave!

Yap, jadi sejak Februari lalu aku dan dua orang temenku, Tantri dan Liya, mulai mencoba berwirausaha. Dalam hal ini kami memilih usaha tas tapi bukan jadi reseller dari pemasok lho! Benar-benar wirausaha, jadi kami medesain dan memproduksi sendiri tas yang akan dijual. Kenapa? Soalnya kami ga mau mainstream dengan menjual barang yang udah banyak beredar di pasaran. Lagipula menurut aku, yang paling sering belanja online di antara kami bertiga, barang-barang yang dijual online itu biasanya kurang eksklusif dan lack idea. Padahal konsumen terkadang ingin memiliki barang yang ga banyak yang nyamain. Intinya ga mass product lah. Pasti seneng kan punya barang yang ga banyak orang lain pake, ada rasa bangga gitu kan? Hehe..

Maka dari itu.. Lahirlah 8rave! Jadi nama brand kami tuh 8rave! Ini adalah hasil dari pemilihan yang awalnya ada 8less, dReamer sama PassiQue juga. Terus menciut jadi 8rave! dan 8less hingga akhirnya terpilihlah 8rave! Yaaaay~

Sebenarnya yang awalnya gagasin bikin usaha adalah Tantri. Katanya dia lagi pengen dapet tambahan uang jajan dan ngajak Liya untuk usaha sesuatu. Nah, pas itu aku denger dan bilang "Ajak aku juga dong!" Hahaha.. dari dulu aku memang suka ikut-ikut usaha. Aku juga usaha jual DVD Anime dan penghasilan lumayan banget dari sana tetapi ada yang kurang gitu kalo jual DVD aja. Soalnya kan kalo jual DVD ga ada resiko dan tantangan juga ga ada inovasi.

Sesuai dengan pelajaran ekonomi yang dipelajari di sekolah kami ingin menjadi wirausahawati(?) yang baik sesuai dengan ciri-ciri wirausaha yaitu:

  1. Percaya diri. Yaitu memiliki keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas dan optimisme
  2. Berorientasikan tugas dan hasil. Kebutuhan akan prestasi berorientasi laba, 
    ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, dan 
    inisiatif
  3. Berani mengambil resiko serta menyukai tantangan
  4. Kepemimpinan : bertingkah laku sebagai pemimpin dapat bergaul dengan orang lain 
    menanggapi saran serta kritik dan menggunakannya sebagai pemacu untuk lebih baik
  5. Keorsinilan. Inovatif dan kreatif fleksible, punya banyak ide yang menarik
  6. Berorientasi ke masa depan.

Oke kembali ke masalah 8rave! nama ini yang akhirnya terpilih. Sebenarnya dibaca Brave artinya berani. Terus kenapa pakai angka '8' karena kami cuma membuat 8 buah tas dari setiap desain. Yup, sangat limited! 


Nah terus tas macam apa sih yang diproduksi 8rave!?Kami memproduksi tas dengan menggunakan motif suku-suku di Indonesia. Kan sekarang lagi musim    tribal tuh, sebenarnya Indonesia juga punya banyak motif yang kece dan unik untuk dijadikan penghias tas, dompet bahkan pakaian.
Apa kelebihan produk dari 8rave!?Kami hanya memproduksi 8 tas setiap desain dan tidak akan ada restock. Sangat limited edition! Kami juga berusaha membuat tas dengan desain yang up-to-date agar tas yang kami buat lebih disukai konsumen muda. Meskipun menggunakan motif daerah, kami telah memilih motif yang sesuai dengan tas yang akan diproduksi. 
Yang ingin dicapai oleh 8rave!?Kami ingin membuat generasi muda Indonesia dapat mengenal dan mencintai motif-motif daerah dan memakainya dengan perasaan bangga! Kami ingin menghilangkan mindset kalau motif daerah itu kuno, murahan dan hanya dipakai oleh orang tua saja. 
Catch-phrase 8rave!?Be 8rave! and Proud Girls!!

Sejak Februari kemarin kami sudah berhasil menjual 7 dari 8 tas lho~
Nih tas pertama yang kami produksi. Menggunakan motif suku Toraja dari Sulawesi Selatan.

Ransel Motif Toraja
Nah, rencanaya awal Mei kami mau release desain baru! Ditunggu ya~



8rave!
LINE : Beenbin85
Instagram : 8brave
WA/SMS : 085248152488
Email : Bravebox@rocketmail.com




Selasa, 01 Januari 2013

Planetes by Egoist

Planetes
Transliterated by Lolita.
http://www.crimsonxsilk.wordpress.com

Translated by animeyay

Shizuka no umi ni hitori
Hirotta kaigara mimi ni ateta
Jitto mimi wo sumaseba
Hora
Kikoete kuru
Kimi no MESSEEJI
In a quiet sea, alone,
I put my ear against a seashell I found.
When I listen closely,
aha,
I can begin to hear
your message.
Ienakatta omoi wo
Suna ni kaite wa
Nami ga saratte yuku
I write onto the sand
my feelings that I kept from you,
and let them be carried away by the sand.
Hello Hello
Koko ni iru yo
Kono monogatari no hajimari no basho de
Yakusoku dake ga kurikaeshite mo
Anata no kioku ni watashi wa zutto ikiteru
Hello Hello
I'm right here.
In this place where our story began,
even if there are nothing but our promises,
I will always be alive in your memories.
Kioku no umi ni shizumi
Kuon no toki wo watashi wa yukou
Koko kara mieru chiisana hoshi to
Mihatenu sora ni kimi wo omotte
Sinking into the sea of memories,
I'll transcend the eternal time.
Looking at the miniature planet Earth
in this boundless universe, I think about you.
Kumo no kirema kagayaku aoi furusato
Chiheisen ni kieru
My blue hometown, shining through the clouds' crevice,
disappears into the horizon.
Hello Hello
Koko ni iru yo
Kono monogatari no hajimari no basho de
Doredake toki ga sugiyou tomo
Anata no kioku ni watashi wa zutto ikiteru
Hello Hello
I'm right here.
In this place where our story began,
no matter how much time should pass,
I will always be alive in your memories.
Wakusei ga ochiru koro
Anata to watashi  hikareatte
Kanarazu mata aeru
Ano yakusoku no basho de
When the planets begin to fall into ruins,
you and I, pulled by each other's attraction,
will definitely be able to meet again
in that place of our promise.
Hello Hello
Koko ni iru yo
Denshi wo tadotte hajimari no basho e
Yakusoku dake ga kurikaeshiteru
Anata ni au tame tabi wo tsuzukeyou
Hello Hello
I'm right here.
Following the electrons, I'm on my way to the place of our beginning.
I have nothing but our promises,
but in order to meet you, I'll continue my journey.
Watashi wa sora kara nagare
Kono monogatari no hajimari no basho e
Sono toki futatabi aeru darou
Ano aoi hoshi de anata ni tadoritsuku kara
I flow down from the sky
towards the place where our story began.
When I reach there, I should be able to meet you again,
for I will find my way to you on that blue planet.
  

Selfish


Selfish
“Munakata..”
            Suara itu menggelitik telingamu. Merasuk melalui rongga kecil dan sampai pada gendang telinga sebelum memperoleh respon dari otak. Kamu tidak menyambut panggilan itu dengan suara, kamu hanya menjawabnya dengan lekukan tipis di bibirmu. Itupun matamu tidak menatap orang itu.
            “Munakata..”
            Entah telah berapa bulan berlalu sejak kenangan buruk itu tercipta di ingatanmu. Tetapi orang itu berada di sini sekarang, duduk di sisi kasur dengan perban membalut mata kirinya dan beberapa jahitan bekas tertusuk pedang di dadanya. Kamu tidak bisa komplain, kan? Kamu tidak bisa komplain pada Tuhan atau bahkan pada dirimu sendiri.
            “Reishi..”
            Ah, suara itu. Kamu sangat menyukai nada yang orang itu gunakan saat memanggil namamu. Kamu mengalihkan pandanganmu dari gelapnya malam menuju merahnya rambut orang itu ketika ia tersenyum, sesuatu yang baru kali ini kamu lihat dari wajah pemalasnya. Tentunya senyum yang berbeda dari yang orang itu buat pada hari kelabu itu.
            “Akhirnya kamu berbalik,” ucap orang itu.
            “Hmm.. Apa kamu ingin aku perhatikan?” kamu mengeluarkan nada sarkastik itu lagi.
            Orang itu tertawa mendengar pertanyaanmu. Tawa hangat yang sudah lama tidak kamu dengar. Semua tentang orang itu terpatri rapi dalam ingatanmu, baik menyebalkan, benci, iri, sayang dan... cinta?
            “Selama ini hanya kamu yang mengunjungiku. Apa aku tidak punya kenalan lain selain kamu?”
            Pertanyaan itu hampir membuatmu tersedak dari teh oolong kalengan yang kamu minum. Orang itu benar-benar tidak ingat. Ia tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana hidupnya.
            “Tidak.”
            Mungkin dari semua manusia yang ada di dunia kamulah yang paling terburuk. Kamu memanfaatkan amnesia orang itu sebagai sarana untuk memulai hubungan baru dengannya. Kamu menyatakan telah membunuh orang itu dengan tanganmu sendiri pada semua orang. Membiarkan semua clansman orang itu menumpuk rasa benci padamu, namun kenyataannya kamu menolong orang itu di detik terakhir sebelum pedang raksasa itu menghancurkan tubuhnya, pemandangan yang sama sekali tidak ingin kamu lihat.
            Kamu tidak memperdulikan rasa benci itu. Semenjak pedang damocles orang itu merapuh kamu tidak memperdulikan apapun selain orang itu. Iya, kan? Kali ini kamu hanya ingin menjadi penyelamat bagi orang itu, bukan mengadilinya.
            “Suoh-..” kalimatmu terhenti ketika orang itu meraih wajahmu dan melepaskan kacamatamu.
            “Kamu lebih cocok tidak memakai kacamata.”
            Kamu hanya bisa membeku menatap orang itu, meskipun matamu sedikit kabur karena pandanganmu memburuk tanpa kacamata. Berbagai hal yang kamu lewati bersama orang itu mulai terputar kembali dalam ingatanmu dan kamu hanya bisa menahan tangis ketika menyadari bahwa orang itu tidak mengingat apa yang kamu ingat.
            “Jangan menangis, Reishi..”
            Nada khawatir itu bagai pedang yang menusuk jantungmu. Kamu menyangkan orang hina sepertimu tidak pantas dikhawatirkan, setidaknya tidak pantas untuk dikhawatrikan orang itu.
            “Aku tidak menangis! Mataku hanya berair karena kamu melepas kacamataku,” bantahmu.
            Bohong. Di ujung pintu ini aku bahkan bisa melihat ekspresi sedihmu serta genangan air mata yang menumpuk di pelupuk matamu. Kamu memang pembohong. Pembohong nista yang berpura-pura bahagia dengan kehidupan yang kamu jalani.
            Kenapa kamu tidak bisa jujur? Aku memang tidak pernah mengerti perasaanmu, karena itu aku hanya bisa berdiri di sini melihat sisi dirimu yang berbeda di depan orang itu.
            “Reishi, mungkin aku tidak mengingat apapun. Tetapi aku tahu satu hal..” pria yang dulunya merupakan The Red King itu mengusapkan kedua tangannya ke pipimu sebelum menyambung kalimatnya, “Munakata Reishi adalah seseorang yang penting bagiku, baik aku yang dulu maupun aku yang tidak mengingat apapun saat ini.”
            Kamu tidak tahu mengapa dari dulu orang itu selalu bisa merebut hatimu. Kamu juga tidak tahu mengapa orang itu telah memiliki ruang sendiri di dalam hatimu. Dan kamu juga tidak tahu kenapa kamu mau memberikan kunci ruangan itu padanya sehingga orang itu bisa masuk sesukanya dalam hatimu.
            “This time.. Only this time can I be selfish?” gumammu saat orang itu memelukmu dengan hangat.
            Selfish, huh? Aku sedikit terkejut ketika kamu bisa mengucapkan kalimat itu. Aku bahkan menyenggol suster manis yang ingin mengganti infus orang itu dan menahannya agar tidak masuk.
            “Tentu saja. Semua orang berhak bersikap egois, bahkan kapten Scepter-4 sepertimu sekalipun.”
            Kamu menenggelamkan wajah tampanmu ke dada orang itu hingga kamu bisa mendengar detak jantungnya. Kamu telah melalui banyak hal, kan? Karena itu kali ini kamu hanya ingin sedikit egois dengan tidak memberitahu HOMRA, aku atau siapapun bahwa orang itu masih hidup.
            Just this time you want to be selfish. You want to keep that man, Suoh Mikoto, all by yourself. And that’s okay, right? Even for me, a mere lieutenant, your actions have no wrong at all, though I don’t have right to judge you.**

Selasa, 21 Februari 2012

Boost a Life! @XI IPS 3

     Oke, udah satu tahun lebih sehari aku ga update blog ini. Jujur ya, rasanya kangeeeeeen banget mau nge-blog tapi apalah daya, aku bukan anak SMP yang freetime lagi sekarang :).

    Sebagai info aja, sekarang aku menetap di kelas XI IPS 3, telat banget ya infonya, tapi ngga apa-apa lah daripada ga diungkap kan? Ngomong-ngomong soal XI IPS 3 a.k.a kelasku ini orang-orangnya cool banget. Mereka tau banget gimana ngehargai orang lain dan nggak ikut campur urusan atau kegiatan orang lain juga. Ah ya, ga ketinggalan temen-temen sekelas juga ga ada yang pelit loh dalam pelajaran. Seneng deh di kelas ini!!

     Wali kelas? Woaaa... Ga ada yang bisa nyangkal kalau kelas XI IPS 3 ini punya wali kelas yang paling keren sejagad raya -oke, lebay- tapi beneran deh, emang keren banget. Namanya Bu Sri Hartati, guru ekonomi, yang perkataannya menusuk tapi berisi fakta. Jadi, jangan pernah tersinggung sama apa yang diucapin Bu Tatik, walau jleb itu beneran faktanya. Hal yang paling khas dari Bu Tatik ini selain ke-frontalannya adalah suara khas dan kalau ulangan harian PASTI  lisan.

     Haaa... Pernah ngerasain ulangan ekonomi lisan? Rasanya sesuatu banget tapi kalau kita beneran bisa jawab, Bu Tatik ga segan ngasih nilai 90. Sebenarnya itu juga sekalian belajar ngomong sih, karena bekal anak IPS apalagi kalau selain ngoceh? Tapi kita ngocehnya berisi bray. Mau masalah politik? Oke. Perekonomian Indonesia? Oke. Penyakit sosial di Indonesia? Oke. Menyacati boyband Indonesia? Challenge accepted. Hahaha.. Masalah nyacatin boyband ini aku sering melakukannya bersama Pepi dan Fara LOL.

    Kembali ke kelas XI IPS 3. Kelas ini memang berisi berbagai macam orang, multikulturalisme banget deh. Ada atlet (Shafa, Fiska, Wawa, Amel, Enda), vokal (Zia, Tita), fans korea (Inas, Nisa), pecinta alam (Fara, Hakam), jurnalis (aku, Inas, Dita), PMR (Della), model (Mba Amel, Dinta), dan pengrawit (Pepi). Keren ya kelas XI IPS 3 ini! 

     Sekian dulu deh buat post ini, untuk foto nanti aku upload, sekarang lagi males hohoo~

Minggu, 20 Februari 2011

Cokelat untuk Ayah

By : Anggi "BeenBin" Widyastuti


             Kau mengepalkan tanganmu sambil berdecih meremehkan. Kau sedang berargumen dengan Ayahmu, karena nilai try out mu yang bisa dibilang sangat buruk. Kau telah berteriak menyatakan bahwa kau sudah mengerahkan seluruh usahamu dalam try out itu, tetapi Ayahmu tidak mendengarkannya dan mulai membandingkanmu dengan apa yang telah diraih oleh kakakmu.
            “Aku bukan Kak Gita! Aku tidak sepintar dia!”
            “Karena itu kau seharusnya belajar dari kakakmu, Rani!”
            “Ah, terserah apa kata Ayah, aku tidak perduli!!”
BLAM!
Kau membanting daun pintu kamar Ayahmu, keluar dari ruangan sederhana itu dan meninggalkan Ayahmu bersama kursi rodanya. Kesal. Itu yang kau rasakan, semua orang tahu jika sekarang Februari, mendekati hari valentine yang ditunggu-tunggu tetapi ternyata sekolahmu mengadakan try out tepat seminggu sebelum hari H nya. Tidak hanya itu, sekolahmu juga mengumumkan hasilnya tepat sehari sebelum tanggal 14 dan menghancurkan mood mu untuk merayakan valentine.
“Sial, kenapa sih try out nya harus sekarang? Kenapa ngga pas akhir bulan aja!” protesmu sambil menghempaskan tubuhmu ke atas kasur. Kau membuka ponselmu dan memeriksa jika ada pesan atau telepon yang masuk dari Gio, pacarmu. Sekarang ini kau hanya berharap sebuah kata dari Gio untuk  menenangkanmu, tetapi ternyata pemuda yang telah kau pacari selama dua bulan itu sama sekali tidak menghubungi sama sekali hari ini.
Kau mencoba untuk tidak menghiraukan masalah itu dan setelah bergelut dengan guling kesayangmu kau memutuskan untuk mulai membuat cokelat untuk Gio.
***
Kedua kakimu terasa kelu ketika kau berdiri di balik pohon besar belakang sekolah. Beberapa menit yang lalu senyuman manis masih terhias di wajahmu, tetapi sekarang yang ada di wajahmu hanyalah gurat tidak percaya dan kecewa. Matamu membulat dan mulutmu terbuka, pemandangan yang tersaji di depanmu itu sungguh tidak bisa dinalar. Kau melihat Gio bergandengan tangan dengan gadis lain, tepat di hari valentine, dimana seharusnya kau dan Gio berbagi kasih sayang yang lebih dari hari biasanya.
Terpuruk. Itulah yang kau rasakan. Kau menyeka air matamu dan segera berlari menjauh dari tempat kutukan itu. Sesampainya di rumah kau masuk dengan membanting daun pintu rumahmu dan ketika melewati tong sampah di samping lemari sepatu kau langsung melempar cokelat yang menghabiskan waktu tiga jam bagimu untuk membuatnya ke sana, membiarkannya tercampur dengan bungkus mie instant dan sebuah botol kecap kosong lalu langsung mengurung diri di dalam kamarmu.
***
Beberapa jam kemudian, ketika kau membuka pintu kamarmu kau dikejutkan dengan apa yang kau lihat. Dengan perlahan kau menutup pintu kamarmu dan melangkah mendekati Ayahmu yang sedang memakan cokelat yang tadi kau buang. Kau tidak percaya, Ayahmu bukanlah seseorang yang akan memakan makanan yang sembarangan, kau hapal itu karena kau yang sering memasakkan makanan yang kau pikir sehat untuknya. Dan ketika itu juga kau ingat, setelah pertengkaranmu kemarin kau sama sekali tidak berbiacara pada Ayahmu.
“Ayah..” suaramu bergetar saat mengucapkannya. Ayahmu berpaling dan dengan cokelat buatanmu di pangkuannya Ayahmu tersenyum.
“Cokelatnya enak,” komentar Ayahmu, padahal kau tidak menanyakannya.
Kau semakin mendekati Ayahmu dan menunduk mensejajarkan dengan kursi rodanya. Hanya ada satu hal yang ingin kau tanyakan pada Ayahmu saat ini. “Kenapa Ayah memakannya? Itu kan sudah aku buang ke tong sampah.”
“Cokelat yang dibuat dengan sepenuh hati tidak pantas bertengger di sana, lebih baik Ayah yang memakannya.”
                Jawaban itu membuatmu tertegun. Rasanya kau ingin menangis sekarang. Menangis dan memohon ampun atas kata-kata yang tidak pantas kau ucapkan kemarin. Akhirnya, kau tersenyum dan sambil mendorong kursi roda Ayahmu ke ruang keluarga kau berkata,

            “Kalau Ayah mau, aku akan buatkan cokelat yang jauh lebih enak dari itu dan sebanyak apapun yang Ayah minta”.

 F I N

 

A D.I.Y. Blogger Template by Sommerfugl Design