Selasa, 01 Januari 2013

Selfish


Selfish
“Munakata..”
            Suara itu menggelitik telingamu. Merasuk melalui rongga kecil dan sampai pada gendang telinga sebelum memperoleh respon dari otak. Kamu tidak menyambut panggilan itu dengan suara, kamu hanya menjawabnya dengan lekukan tipis di bibirmu. Itupun matamu tidak menatap orang itu.
            “Munakata..”
            Entah telah berapa bulan berlalu sejak kenangan buruk itu tercipta di ingatanmu. Tetapi orang itu berada di sini sekarang, duduk di sisi kasur dengan perban membalut mata kirinya dan beberapa jahitan bekas tertusuk pedang di dadanya. Kamu tidak bisa komplain, kan? Kamu tidak bisa komplain pada Tuhan atau bahkan pada dirimu sendiri.
            “Reishi..”
            Ah, suara itu. Kamu sangat menyukai nada yang orang itu gunakan saat memanggil namamu. Kamu mengalihkan pandanganmu dari gelapnya malam menuju merahnya rambut orang itu ketika ia tersenyum, sesuatu yang baru kali ini kamu lihat dari wajah pemalasnya. Tentunya senyum yang berbeda dari yang orang itu buat pada hari kelabu itu.
            “Akhirnya kamu berbalik,” ucap orang itu.
            “Hmm.. Apa kamu ingin aku perhatikan?” kamu mengeluarkan nada sarkastik itu lagi.
            Orang itu tertawa mendengar pertanyaanmu. Tawa hangat yang sudah lama tidak kamu dengar. Semua tentang orang itu terpatri rapi dalam ingatanmu, baik menyebalkan, benci, iri, sayang dan... cinta?
            “Selama ini hanya kamu yang mengunjungiku. Apa aku tidak punya kenalan lain selain kamu?”
            Pertanyaan itu hampir membuatmu tersedak dari teh oolong kalengan yang kamu minum. Orang itu benar-benar tidak ingat. Ia tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana hidupnya.
            “Tidak.”
            Mungkin dari semua manusia yang ada di dunia kamulah yang paling terburuk. Kamu memanfaatkan amnesia orang itu sebagai sarana untuk memulai hubungan baru dengannya. Kamu menyatakan telah membunuh orang itu dengan tanganmu sendiri pada semua orang. Membiarkan semua clansman orang itu menumpuk rasa benci padamu, namun kenyataannya kamu menolong orang itu di detik terakhir sebelum pedang raksasa itu menghancurkan tubuhnya, pemandangan yang sama sekali tidak ingin kamu lihat.
            Kamu tidak memperdulikan rasa benci itu. Semenjak pedang damocles orang itu merapuh kamu tidak memperdulikan apapun selain orang itu. Iya, kan? Kali ini kamu hanya ingin menjadi penyelamat bagi orang itu, bukan mengadilinya.
            “Suoh-..” kalimatmu terhenti ketika orang itu meraih wajahmu dan melepaskan kacamatamu.
            “Kamu lebih cocok tidak memakai kacamata.”
            Kamu hanya bisa membeku menatap orang itu, meskipun matamu sedikit kabur karena pandanganmu memburuk tanpa kacamata. Berbagai hal yang kamu lewati bersama orang itu mulai terputar kembali dalam ingatanmu dan kamu hanya bisa menahan tangis ketika menyadari bahwa orang itu tidak mengingat apa yang kamu ingat.
            “Jangan menangis, Reishi..”
            Nada khawatir itu bagai pedang yang menusuk jantungmu. Kamu menyangkan orang hina sepertimu tidak pantas dikhawatirkan, setidaknya tidak pantas untuk dikhawatrikan orang itu.
            “Aku tidak menangis! Mataku hanya berair karena kamu melepas kacamataku,” bantahmu.
            Bohong. Di ujung pintu ini aku bahkan bisa melihat ekspresi sedihmu serta genangan air mata yang menumpuk di pelupuk matamu. Kamu memang pembohong. Pembohong nista yang berpura-pura bahagia dengan kehidupan yang kamu jalani.
            Kenapa kamu tidak bisa jujur? Aku memang tidak pernah mengerti perasaanmu, karena itu aku hanya bisa berdiri di sini melihat sisi dirimu yang berbeda di depan orang itu.
            “Reishi, mungkin aku tidak mengingat apapun. Tetapi aku tahu satu hal..” pria yang dulunya merupakan The Red King itu mengusapkan kedua tangannya ke pipimu sebelum menyambung kalimatnya, “Munakata Reishi adalah seseorang yang penting bagiku, baik aku yang dulu maupun aku yang tidak mengingat apapun saat ini.”
            Kamu tidak tahu mengapa dari dulu orang itu selalu bisa merebut hatimu. Kamu juga tidak tahu mengapa orang itu telah memiliki ruang sendiri di dalam hatimu. Dan kamu juga tidak tahu kenapa kamu mau memberikan kunci ruangan itu padanya sehingga orang itu bisa masuk sesukanya dalam hatimu.
            “This time.. Only this time can I be selfish?” gumammu saat orang itu memelukmu dengan hangat.
            Selfish, huh? Aku sedikit terkejut ketika kamu bisa mengucapkan kalimat itu. Aku bahkan menyenggol suster manis yang ingin mengganti infus orang itu dan menahannya agar tidak masuk.
            “Tentu saja. Semua orang berhak bersikap egois, bahkan kapten Scepter-4 sepertimu sekalipun.”
            Kamu menenggelamkan wajah tampanmu ke dada orang itu hingga kamu bisa mendengar detak jantungnya. Kamu telah melalui banyak hal, kan? Karena itu kali ini kamu hanya ingin sedikit egois dengan tidak memberitahu HOMRA, aku atau siapapun bahwa orang itu masih hidup.
            Just this time you want to be selfish. You want to keep that man, Suoh Mikoto, all by yourself. And that’s okay, right? Even for me, a mere lieutenant, your actions have no wrong at all, though I don’t have right to judge you.**

0 komentar:

Posting Komentar

 

A D.I.Y. Blogger Template by Sommerfugl Design